18 February 2017

Ongkos Pilkada Itu 150 Ribu Per Orang Lho


Kebanyakan dari kita mungkin kurang menyadari atau “ngeh” bahwa riuh ramainya nya pilkada di seluruh penjuru Indonesia termasuk yang sedang “panas” saat ini yaitu pilkada DKI Jakarta sebetulnya dibiayai sepenuhya oleh duit kita sendiri.

Indonesia ini katanya sudah mengikrarkan diri sebagai negara demokrasi, maka yang namanya Pemilu atau pemilihan umum, Pilpres atau pemilihan presiden, serta Pilkada atau Pemilihan Kepala Daerah di Indonesia merupakan satu “syarat” yang wajib dilaksanakan. Walaupun untuk itu pengorbanannya besar, tidak hanya materi (duit), bahkan kadang bisa sampai menimbulkan kerusuhan yang bisa merugikan, bahkan sampai memakan korban jiwa. Kalau kata dosen saya sih sebenernya sistem pemilihan pemimpin dalam hal ini kepala pemerintahan seperti presiden, gubernur, bupati atau walikota yang dilakukan secara langsung oleh rakyat ternyata di dunia ada hanya ada 2 yaitu pertama pada zaman Yunani Kuno dan kedua di negara kita tercinta ini. Hebat juga saya fikir negara kita ini.

Let’s kembali ke topik yang mau saya angkat. Kita akan maklum setiap kegiatan apalagi melibatkan orang banyak maka akan memerlukan sumber daya, salah satunya perlu biaya. Pun setiap penyelenggaraan event pesta demokrasi baik itu pemilu, pilpres atau pilkada maka selalu akan memerlukan biaya. Dari mana biaya itu? Tentunya dari negara yang notabene termasuk dari berbagai pajak yang kita bayarkan lho! (APBN).

Ngomong-ngomong tentang besarnya biaya penyelenggaraan pemilu, pilpres, atau pilkada hal itu juga akan sangat berhubungan dengan jumlah penduduk dan juga jumlah wilayah pemerintahan di Indonesia dari mulai Provinsi sampai Kabupaten/Kota. Untuk jumlah penduduk Indonesia menurut perkiraan BPS tahun 2015 sekitar 255.461.700 jiwa atau kita bulatkan 255 juta jiwa. Lalu seperti kita tahu jumlah provinsi di negara ini ada 34, sedangkan untuk jumlah kabupaten/kota seperti saya kutip dari wikipedia sampai saat ini ada 415 kabupaten dan 93 kota atau jika ditotal adalah 508 Kabupaten/Kota (Catatan: total sebetulnya adalah 514 namun kota dan kabupaten administratif di DKI Jakarta tidak dimasukan karena pemimpinnya tidak dipilih melalui pilkada).

Menurut info, biaya rata-rata untuk 1 kali pemilihan gubernur mencapai 500 milyar rupiah, sedangkan untuk tingkat kabupaten/kota mencapai 25 milyar rupiah, itu kalau hanya satu putaran, jika sampai dua putaran maka biaya akan bertambah rata-rata 50% nya.

Mari kita “gotak-gatik” secara sederhana berapa sih sebenarnya besaran biaya yang dibutuhkan untuk pemilu, pilpres atau pilkada ini secara total. Saya coba perhitungan secara sederhana saja; jika pilkada provinsi dilakukan 1 putaran, maka 500 m kita kalikan 34 provinsi itu sama dengan uang 17 triliun rupiah. Sedangkan untuk pilkada kabupaten/kota 1 putaran maka 25 m dikalikan 508 kabupaten/kota = 12,7 triliun. Keduanya ditotal maka biaya yang diperlukan untuk menyelenggarakan pilkada di negeri ini akan mencapai 29,7 triliun atau hampir 30 triliun! Jika biaya ini ditambah dengan biaya pilpres yang sekitar 7,9 triliun (tahun 2014), maka total untuk seluruh pemilihan kepala pemerintahan di Indonesia saja sudah menghabiskan duit sekitar Rp. 38 triliun.

Jika biaya Rp. 38 triliun tadi kita bagi dengan 255 juta penduduk Indonesia, maka setiap orang di indonesia harus menanggung biaya pilkada dan pilpres sebesar 149.019 rupiah. Kalau dibulatkan, maka setiap kepala pemerintahan di Indonesia untuk terpilih perlu disumbang oleh rakyat sebesar 150 ribu rupiah/orang.

Belum lagi termasuk pemilu, berkaca ke biaya pemilu 2014 di mana untuk penyelenggaraannya mencapai 24,1 triliun. Jika biaya pemilu ini ditambahkan juga, maka total biaya “pesta demokrasi” di Indonesia ini kurang lebih 62,1 triliun. Lagi-lagi jika 62,1 triliun dibagi 255 juta, maka setiap penduduk Indonesia harus menanggung biaya “pesta demokrasi” ini sebesar 243.529 rupiah atau kita bulatkan Rp. 250.000.

Panasnya hawa pilkada DKI Jakarta saat ini mendorong saya untuk mencoba juga mengutak-atik secara sederhana berapa sih biaya yang dihabiskan. Biaya penyelenggaraan biaya Pilkada DKI Jakarta adalah sekitar 478 milyar rupiah, lalu berdasarkan situs jakarta.go.id jumlah penduduk DKI Jakarta tahun 2013 sebesar 12,998,816 jiwa. Maka untuk acara pilkada DKI Jakarta yang saat ini sedang “panas-panasnya” sampai 2 putaran, setiap penduduk di DKI Jakarta sebetulnya “saweran” sebesar 36.722 rupiah atau dibulatkan Rp. 37.000.

Berkaca dari itu bisa kita lihat betapa mahalnya sebuah ritual demokrasi dan itu dibiayai oleh duit rakyat termasuk duit anda, namun di sisi lain hasil dari itu semua ternyata tidak sebanding dengan dampak yang dirasakan oleh rakyat. Bisa kita tahu dari pemberitaan baik dari media cetak ataupun online sampai saat ini kepala daerah serta anggota DPR/DPRD hasil berbagai pemilihan tadi ternyata masih banyak yang bermasalah dan bahkan korup.

Semua hal di atas hanya melihat dari sisi cost atau katakanlah modalnya saja sebagai input. Tentunya tidak fair jika hanya melihat dari satu sisi saja, kita harus lihat juga dari sisi outputnya. Menurut Mendagri (Kemendagri) selama kurun dari 2010 sampai 2014 sebanyak 343 kepala daerah tersangkut kasus hukum (namun tidak dijelaskan secara rinci mana yang gubernur atau bupati/walikota). Asumsikan saja itu adalah jumlah bupati/walikota yang tersangkut kasus hukum, 343 berarti lebih dari 50% jumlah kabupaten/kota yang 508 tadi, atau tepatnya 67,5%. Lalu dari 343 orang itu 56 tersangkut adalah tesangkan atau terkait kasus korupsi (baca “ditangkap” KPK) atau jika diangkakan sebesar 11%.

Itu semua bukan angka yang kecil, melihat itu seharusnya kita merasa miris bahkan mungkin geram karena ternyata selama ini begitu besarnya biaya yang dikeluarkan hanya untuk menghasilkan orang-orang yang bermasalah. Ini belum lagi jika dihitung juga kasus hukum (terutama korupsi) yang melibatkan anggota DPR/DPRD, alamak rugi bandar nih!

Biaya tadi baru dihitung untuk 1 masa lima tahun, padahal pemilu, pilpres, dan pilkada sudah berlangsung dari tahun 1999, silahkan hitung sendiri berapa besar “duit” yang sudah dihabiskan untuk itu. Kalau difikir-fikir proses kayak gitu buang-buang duit aja, mending dibagiin ke rakyat aja langsung biar terasa manfaatnya. Saya tidak tahu ada di mana masalahnya, di sistem nya ataukah memang mental bangsa ini yang baru siap sampai tahap berdemo, belum sampai ke tahap berdemokrasi. Itu adalah kewajiban pemerintah dan seluruh rakyat negeri ini untuk membenahinya.

13 February 2017

Pengalaman Kuliah Di Magister Ilmu Perencanaan Wilayah IPB (Bagian 1)


Tidak terasa kuliah di Magister Ilmu Perencanaan Wilayah (PWL) IPB sudah lewat 1 semester, saat ini sudah memasuki awal semester II. Banyak suka dan susah yang sudah dilewati di semeter I, berikut ini sedikit pengalaman yang saya rasakan.

Namanya semester I yaitu semester awal, saya lebih suka menyebutnya sebagai masa mengenal dan menyesuaikan dengan lingkungan akademis khususnya nuansa lingkngan masyarakat tingkat pasca sarjana atau master/magister. Yang paling terasa di semester I adalah capek dan benar-benar ‘bejibun’ alias sibuk dengan tugas, terkadang ada masa di mana terasa seperti tugas tidak ada selesainya, datang seperti bertubi-tubi. Tapi memang itulah kuliah tingkat magister, mahasiswa disiapkan untuk menjadi trouble shooter kalau menurut saya. Karena itu bisa dimaklum tugasnya banyak, menurut saya hal itu agar kita dilatih berfikir lebih terstruktur, lebih ilmiah, bahkan kreatif dan inovatif dalam menyelesaikan persoalan yang beragam.

Semester I me-warning bahwa mahasiswa tingkat magister itu harus belajar mandiri. Mandiri di sini dalam artian jika hanya mengandalkan apa yang didapat dikelas saja tanpa ada kemauan untuk mengembangkan dan memperdalamnya sendiri, maka sulit untuk mencapai kondisi menjadi trouble shooter di atas. Ini akan bisa dilihat hasilnya seperti apa di IPK masing-masing mahasiswa, khususnya IPK semester I ini. Anyway apapun hasil IPK, tentu di balik itu semua lega rasanya ketika bisa melewati semester I ini secara normal tanpa masalah, bagi saya khususnya memuaskan (mimpinya J).

Sedikit cerita tentang angkatan saya di PWL 2016 reguler (karena ada juga kelas khusus). Kami di angkatan PWL 2016 berjumlah 14 orang, terdiri 10 orang laki-laki dan 4 perempuan, berasal dari mulai Aceh sampai Papua, serta dari berbagai profesi dari mulai fresh graduate, pencari kerja J, ASN/PNS, konsultan/swasta (seperti saya J), dll. Beberapa di antaranya malah ‘cilok’ J.
Let’s kembali ke pokok cerita, di mana saya ingin berbagi cerita mengenai kuliah-kuliah yang sudah saya dan teman-teman angkatan saya ambil, antara lain;

1.       Matrikulasi
Kuliah ini wajib diikuti, dan merupakan penyamarataan pemahaman tentang ilmu-ilmu yang menjadi dasar Ilmu Perencaan Wilayah khususnya di Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan (DITSL) IPB. Menurut dosen yang ngajar di matrikulasi ini, dulu-dulu sebelum tahun 2015 biasanya matrikulasi ini berlangsung selama dua minggu, namun semenjak tahun 2015 sampai saat ini menjadi hanya satu minggu, jam kuliahnya pun full mulai jam 7.00 – 17.00 wib. Walaupun kuliah matrikulasi ini bernilai 1 SKS tetapi tidak mempunyai nilai.

Kuliah matrikulasi ini diawali dengan kuliah umum tentang penataan ruang dari Prof. Santun RP Sitorus, di mana beliau ini juga adalah mantan ketua prodi PWL. Kuliah-kuliah selanjutnya diisi mengenai dasar-dasar secara umum mengenai ilmu tanah, dasar statistik, makro ekonomi, dll. Kita cukup menjadi pendengar yang baik saja, bahkan mungkin membuat mengantuk. Maka disarankan untuk banyak bertanya agar suasana kelas tidak membosankan.

Barulah di minggu setelahnya kita memasuki mata kuliah yang menjadi inti dari Ilmu Perencanaan Wilayah versi IPB untuk semester I, di mana sudah dipaketkan yaitu;

2.       Penataan Ruang
Mata kuliah ini wajib dan sudah paket, jumlah 2 sks, kita tinggal mengikutinya saja. Mata kuliah ini intinya memberikan landasan-landasan teori ataupun peraturan yang terkait dengan perencanaan ruang, baik global ataupun nasional. Misalnya tentang definisi tata ruang, peraturannya, dasar struktur ruang, teori lokasi, social capital, KLHS, sarana-prasarana wilayah, dll. Pesan yang ingin disampaikan dari mata kuliah Penataan Ruang ini adalah bahwa untuk membuat perencanaan suatu wilayah khususnya tata ruang, maka harus melihat dan mempertimbangkan aspek yang disebutkan tadi.

Kunci keberhasilan dari ikut kuliah ini adalah menggabungkan pemahaman teori dengan kejelian kita melihat kenyataan di lapangan, serta jangan lupa semua tugas yang diberikan dikerjakan dengan baik khususnya membuat paper tentang topik sekitar penataan ruang.

Pengajarnya Prof. Santun RP Sitorus sampai UTS, lalu dilanjut oleh Dr. Ernan Rustiadi sampai UAS.

3.       Evaluasi Sumberdaya Fisik Wilayah
Karena perencanaan itu dilakukan pada atau menggunakan lahan maka penting sekali untuk mengetahui karakteristik lahan di suatu wilayah agar kegiatan yang direncanakan nantinya tidak merusak bahkan bisa membuat sustainable (berlanjut), itu pesan yang ingin disampaikan dari mata kuliah ini. Bagi yang mempunyai latar belakang ilmu tanah maka mengikuti kuliah ini mungkin sedikit bernostalgia dengan istilah-istilah tanah dan tidak akan terlalu sulit mengikutinya, walaupun di dalamnya tidak melulu masalah tanah, malah pembahasan ekonominya menurut saya sedikit mendominasi terutama di kuliah-kuliah akhir. Isi kuliahnya antara lain survey tanah, pembuatan peta tanah, kemampuan dan kesesuaian lahan, valuasi ekonomi lahan, KLHS, dll. Mata kuliah ini berjumlah 3 sks, sehingga ada praktikumnya beberapa kali.

Kunci keberhasilan dari ikut kuliah ini adalah menggabungkan pemahaman teori dengan kejelian kita melihat kenyataan di lapangan, serta jangan lupa semua tugas yang diberikan dikerjakan dengan baik khususnya membuat laporan individu yaitu review jurnal lengkap sampai presentasi dan softcopy nya, dan juga laporan kelompok tentang KLHS (Kajian Lingkungan Hidup Strategis).

Pengajarnya Dr. Widiatmaka sampai UTS, lalu dilanjut oleh Prof. Kukuh Murtilaksono sampai UAS.

4.       Analisis Kuantitatif Spasial
Kuliah mengenai dasar statistik deksriptif baik parametrik maupun non parametrik, seperti regresi, uji korelasi, random effect dan fixed effect, dst.  Lalu dilanjut dengan statistik spasial yang bisa dipelajari melalui software ArcGIS dan Geoda seperti mengenai Spatial Autocorrelation, LISA, Nearest Neighbor, dll. Bagi yang dasar statistiknya baik mungkin tidak terlalu sulit, tapi bagi yang dasar statistiknya kurang kuat atau sudah lama lupa maka perlu banyak mengernyitkan dahi dulu seperti saya J. Pun pengalaman pada SIG juga ikut menentukan.

Kuliah ini menekankan metode statistik dan aspek spasialnya dalam menganalisis dan membuat kesimpulan untuk mendukung penelitian yang nanti akan dilakukan (untuk tesis), dan jangan lupa untuk berfikir logis dan kritis, insya allah akan sukses melewati kuliah ini. Kuliah ini bernilai 3 SKS sehingga ada tambahan praktikumnya walaupun hanya beberapa kali. Saya sarankan sehabis praktikum mencoba mengulanginya lagi sendiri, insya allah akan menambah faham kenapa mata kuliah ini penting. Di angkatan saya UTS hanya tugas presentasi kelompok, tidak ada menjawab soal. Namun di UAS tetap ada soal menghitung statistik spasial plus tugas.

Pengajarnya Prof. Firdaus diselingi Dr. Sahara sampai UTS, lalu dilanjut oleh Dr. Khursatul dan Dr. Andrea Emma sampai UAS.

5.       Sistem Informasi Geogarfis
Ini kuliah favorit saya berhubung terkait erat dengan berlatar belakang pekerjaan saya sehari-hari, berjumlah 3 SKS sehingga ada prakteknya juga. Magister PWL IPB menekankan ketajaman analisis spasial dalam perencanaan wilayah, maka SIG menjadi suatu metode yang wajib untuk dikuasai mahasiswa magister PWL, tidak bisa ditawar!

Yang diberikan pada kuliah SIG ini antara lain dasar-dasar SIG, pengenalan data spasial, koordinat peta, database spasial, dasar permodelan spasial, perkembangan isu SIG, analisis jaringan (network), overlay, query database, berbagai model analisis vektor dan raster, layout peta dan dasar kartografis serta di akhir harus membuat sebuah mini project yang bersifat kelompok. Setiap praktikum ada tugasnya dan cukup menyita waktu juga J. Software yang digunakan yaitu ArcGIS Desktop dan Idrisi, bagi yang mainan sehari-harinya adalah kedua sotware itu maka anda beruntung mengikuti kuliah ini, jadi makin kaya pengalaman selain akan menjadi modal nilai akhir.

Menurut saya tingkat kesulitannya termasuk tinggi, karena sudah sedikit berfilosofi dan berimajinasi menggabungkan teori SIG, spasial, dan kenyataan di kehidupan. Sehingga ini membutuhkan jam terbang SIG yang baik, di sisi lain kebanyakan peserta kuliah ini sedikit ‘kedodoran’ karena ada yang sama sekali ‘blank’ sebelumnya.

Pengajarnya Dr. Baba Barus diselingi Dr. Khursatul sampai UTS, lalu dilanjut oleh Dr. Budi Tjahyono dan kembali Pak Baba sampai UAS, serta didampingi asisten praktikum di Lab. SIG.

6.       Teori dan Proses Perencanaan Wilayah
Kuliah ini lebih ke menerangkan doktrin-doktrin serta ideologi dalam pembangunan dan lebih banyak berteorinya, lebih banyak diskusinya ketika proses di kelas. Bagaimana mahasiswa dituntut untuk lagi-lagi berimajinasi dengan teori lalu membumikannya dengan melihat kenyataannya di lapangan. Yang diberikan antara lain teori-teori perencanaan yang di dalamnya dibagi ke dalam beberapa mazhab perencanaan, trend perencanaan dunia dan nasional/lokal, sistem pembangunan nasional baik secara regulasi maupun praktis, tinjauan praktik-praktik perencanaan, dst.

Kunci keberhasilan dari ikut kuliah ini adalah menggabungkan pemahaman teori dengan kejelian kita melihat kenyataan di lapangan, serta jangan lupa semua tugas yang diberikan dikerjakan dengan baik khususnya membuat laporan kelompok.

Pengajarnya Dr. Ernan Rustiadi sampai UTS, lalu dilanjut oleh Deddy Bratakusumah PhD sampai UAS.

Itulah sedikit tentang kuliah di semester I di PWL IPB. Saat ini saya sudah memasuki kuliah semester II, di mana sudah ada mata kuliah pilihan, sehingga dalam satu angkatan kami saat ini ada yang tidak sama kuliahnya, karena menyesuaikan dengan minat dan keperluannya masing-masing. Insya Allah kalau panjang umur nanti tulisan ini akan dilanjut mengenai semester II.

07 February 2017

Trik Meningkatkan Trafik Blog Bagi Pemula

Bagi anda yang baru terjun ke dunia per-blog-an, tantangan atau hal yang paling mendasar pertama biasanya adalah bagaimana supaya blog yang anda buat segera dikenal atau populer, serta banyak dikunjungi. Hal itu tentu saja tidak salah dan sangat manusiawi. Namun untuk sampai ke sana tentu saja anda perlu sedikit kerja keras dan lebih kreatif tentunya.

Berikut ini lintas bumi rangkum dari beberapa situs lain mengenai beberapa hal mendasar yang bisa anda lakukan untuk mencoba meningkatkan popularitas dan trafic situs blog anda.

1.       Membuat judul postingan lebih menarik
Judul posting bisa menjadi penentu pada artikel itu sendiri, semakin menarik judul maka semakin akan tertarik dan penasaran untuk membukanya. Selain itu judul posting juga mempengaruhi artikel anda dalam pencarian di search engine, optimasi kata kunci yang tepat untuk memaksimalkan hasil pencarian.

2.       Membuat artikel yang berkualitas
Pada dasarnya pengunjung blog mencari sumber atau artikel yang lengkap, pihak google sendiri menyarankan membuat artikel yang relevan dengan penjelasan dan keterangan yang memadai. Untuk jumlah (panjang) standar artikel yang baik minimal adalah 300 kata.
Anda bisa juga membuat artikel  pilar lebih dari 300 kata, asalkan artikel tersebut relevan dengan topik atau judul posting. Artikel pilar bisa menjadi penguat pada blog anda, terutama di mesin pencari.

3.       Membidik long tail keyword
Lakukan riset kata kunci yang tepat, anda bisa menggunakan google keyword planner utnuk menguji kata kunci yang banyak di cari, gunakan long tail keyword (kata kunci yang terdiri dari 3 suku kata) dengan jumlah pesaing yang sedikit. 

4.       Promosikan blog anda
Setelah membuat artikel jangan lupa mempromosikan blog anda, salah satu yang paling mudah adalah melalui media sosial. saat ini banyak media sosial yang bisa kita manfaatkan untuk sharing artikel kita, trafik pengunjung yang melimpah juga bisa kita peroleh dengan cara ini.

5.       Perhatikan kecepatan blog
Kaji ulang kecepatan blog anda, apakah sudah memenuhi standar kecepatan yang paling maksimal. Kecepatan blog bisa di pengaruhi beberapa hal, terutama penggunaan template yang baik dan benar.
Jika anda menggunakan jasa hosting yang lambat, segera pindah dan cari hosting yang baru karena hosting yang lambat akan berpengaruh buruk terhadap blog anda. Kecepatan blog berpengaruh juga terhadap peringkat blog anda di mesin pencari dalam hasil pencarian.

6.       Berkomentar di blog orang lain
Berkomentar secara baik di blog orang lain,tujuan utamanya adalah memperoleh perhatian dari pemilik blog agar berkinjung balik ke blog kita, selain itu kita juga memperoleh jumlah backlink (baik dofollow dan nofollow) yang memperkuat kedudukan SERP (Search Engine Result Page) di mesin pencari.

7.       Keep up to date
Maksudnya adalah anda harus konsisten terhadap blog, update secara teratur dengan artikel yang berkualitas akan lebih berpeluang untuk mendapatkan pengunjung. Dari pada aktif sehari, seminggu di terlantarkan.. kecuali blog anda sudah populer.

Jika hal tersebut di atas kita lakukan secara teratur, sedikit demi sedikit kita akan memperoleh trafik  pengunjung, semua hanya membutuhkan kesabaran saja. 

Selamat nge-blog !