04 December 2009

Microsoft Membuat Peta Digital 3D Melalui Bing Maps, Mirip Dengan Google Maps

Bing1

Nampaknya Microsoft tidak ingin tertinggal dari Google. Microsoft ingin memaksimalkan Bing (mesin pencarinya) untuk kebutuhan all in one.

Baru-baru ini Microsoft meluncurkan Bing Maps Beta. Bing Maps Beta memiliki fitur-fitur yang mirip dengan Google Maps. Mulai dari searching lokasi, zooming lokasi, tombol nafigasi, arah jalur dan lain lain.

bing5

Ada beberapa fitur lain yang mendukung pada Bing Maps ini, seperti update twitter yang menerangkan posisi pengguna, update traffic laluintas dengan kamera, informasi restoran terdekat bakan urban mural yang berada di tembok-tembok jalanan (mirip google street).

Namun sebuah fitur yang cukup fantastis selain anda dapat memperoleh informasi lokasi dalam bentuk garis-garis jalan anda dapat pula memperoleh tampilan foto udara (citraan). Dalam tampilan citraan terdapat dua jenis yaitu Aerial yaitu citraan lurus dari satelit (sehingga hanya tampil atap-atap gedung) dan Bird’s Eye yaitu tampilan citraan tiga dimensi dengan juga menampilkan bagian dinding dan atap bangunan.

Aerial

Bird's Eye

Anda juga dapat menetukan sendiri letak posisi berdiri anda pada suatu tempat. sehinggg pandangan anda akan memperoleh view tiga dimensi seperti bangunan-bangunan jalan dan kendaraan yang ada. Anda dapat seolah-olah melihat sekeliling anda baik didepan ataupun di belakang dengan memutar tombol nafigasi.MaSuk

----------

Sumber : http://kabarit.com/2009/12/microsoft-membuat-peta-digital-3d-melalui-bing-maps-mirip-dengan-google-maps/#bookmarks


Informasi Geospasial Nasional Disahkan 2010

Jakarta, Kompas - Rancangan Undang-Undang Tata Informasi Geospasial, yang melalui pembahasan alot lebih dari satu dekade, telah disepakati 14 instansi terkait. Saat ini tengah dilakukan harmonisasi dengan undang-undang lain di tiap instansi. Selanjutnya RUU ini diharapkan menjadi prioritas legislasi untuk disahkan tahun depan.

Hal ini disampaikan Kepala Bakosurtanal Rudolf W Matindas, mewakili Menteri Negara Riset dan Teknologi, pada pembukaan seminar nasional tentang ”Peningkatan Kualitas Pembangunan dengan Informasi Geospasial Terpadu”, di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (25/11).

Antonius Bambang Wijanarto, anggota Tim Perumus RUU Tata Informasi Geospasial Nasional (TIGNas) Bakosurtanal, kemarin menambahkan, September lalu tercapai kesepakatan mengharmoniskan RUU TIGNas dengan undang-undang di 14 instansi pemerintah dan Bakosurtanal.

Selama ini, ungkap Anton yang juga peneliti di Balai Geomatika Nasional Bakosurtanal, perdebatan alot lebih pada masalah kelembagaan. Pada dasarnya semua instansi pemerintah menyetujui RUU ini bukan karena penguatan kelembagaan saja, tetapi karena, terutama, data dan informasinya yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan amat diperlukan di kehidupan bermasyarakat dan pemerintahan.

Lebih lanjut Matindas mengemukakan bahwa pengesahan UU TIGNas diperlukan sebagai payung hukum untuk melancarkan penyelenggaraan informasi spasial di berbagai sektor di Indonesia, terutama dalam pembangunan Jaringan Informasi Data Spasial Nasional, yang ditargetkan selesai tahun 2012. ”JIDSN ini akan menjadi salah satu simpul jejaring di kawasan ASEAN, yang disebut ASEAN Connect,” lanjutnya.

Salah satu yang diatur dalam RUU TIGNas adalah penggunaan sistem koordinat dan peta dasar yang sama, yang dikeluarkan Bakosurtanal, sebagai acuan semua pihak. Hal ini untuk menghindari konflik antardaerah dan inefisiensi pembangunan.

Pada saat ini Bakosurtanal melalui Menteri Negara Riset dan Teknologi sedang mengajukan RUU tersebut.

Undang-undang tersebut sekurang-kurangnya berisi beberapa asas good governance penyelenggaraan informasi geospasial, antara lain, kepastian hukum dan melibatkan partisipasi semua pihak.

Berlakunya UU TIGNas juga dapat mendorong akuntabilitas, efisiensi, dan efektivitas penyelenggaraan informasi geospasial. Hal ini tercapai karena ada pemanfaatan data bersama, kemudahan akses data, dan dukungan berbagai aplikasi pemanfaatan data spasial. UU ini juga mewajibkan akses informasi geospasial terbuka untuk masyarakat bagi informasi yang tak dinyatakan informasi tertutup. (YUN)

----------

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/28/03324213/Informasi.Geospasial.Nasional.Disahkan.2010

08 October 2009

Bakosurtanal Mengirim Tim "Quick Mapping" Ke Sumbar

BOGOR, (PR).-
Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) mengirimkan tim khusus ke Sumatra Barat (Sumbar) untuk melakukan pemetaan cepat (quick mapping) kerusakan akibat gempa yang mengguncang pada 30 September lalu.

"Ini dalam rangka pembuatan kebijakan rekonstruksi pascagempa," kata Sekretaris Utama (Sestama) Bakosurtanal Sukendra Martha pada "Workshop Baca Peta bagi Wartawan" yang berlangsung di Cibinong Bogor, Rabu (7/10).

Sukendra mengatakan, tim khusus tersebut terdiri dari enam orang, antara lain pakar geologi dari Bakosurtanal Cecep Surbaya dan akan berada di Sumbar selama empat hari.

Dijelaskan dia, peta yang akan dibuat tim tersebut akan lebih detail yakni dengan skala 1:10.000 dari peta yang dibuat Bakosurtanal sebelumnya dengan skala 1:50.000, meliputi sepanjang kawasan pantai barat Sumbar.

"Dengan peta ini, detail dari kerusakan bangunan yang diakibatkan gempa bisa diketahui, seperti kerusakan berat dan ringan dari perumahan, kantor, hotel, jalan, hingga jembatan," katanya.

Sukendra mengungkapkan, tim akan menggunakan teknologi GPS (global positioning system) yang digabungkan dengan foto lokasi setelah gempa.

Informasi tersebut kemudian diintegrasikan dengan informasi dari tim lainnya yang juga datang ke Sumbar. GPS dilengkapi seperti format koordinat, deklinasi magnet, kompas, referensi utara, datum peta, peta elektronik, altimeter, dan lain-lain.

"Karena di sana sulit mencari penginapan, mereka harus siap untuk tidur di alam terbuka dan dilengkapi dengan perlengkapan lapangan seperti tenda dan sleeping bag," katanya.

Meski demikian, ia mengakui pembuatan peta membutuhkan biaya yang sangat besar, namun tim ini lebih didorong oleh semangat kebersamaan dan hanya melengkapi peta dasar yang sudah dibuat Bakosurtanal sebelumnya yang fokus pada satu kecamatan.

Ditanya soal survei dan pemetaan patahan yang disebabkan gempa Sumbar itu, Sukendra mengatakan, ada tim lain yang melakukan penelitian dengan lebih fokus kepada masalah geologi.


Sumber :

Pikiran Rakyat edisi cetak

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=102427

06 October 2009

Peta Padang dan sekitarnya

Mungkin ada di antara anda yang sedang atau akan bertugas menjadi relawan untuk membantu penanganan bencana pasca gempa 7,3 skala richter di Padang dan sekitarnya 30 September lalu. Berikut adalah link peta-peta dijital bagi yang membutuhkan informasi Padang dan sekitarnya, antara lain;

Lokasi posko-posko : http://opensource.telkomspeedy.com/map/

Peta RBI Bakosurtanal :
1. http://www.bakosurtanal.go.id/?m=124&static=188 (Skala 1 : 250.000)
2. http://www.bakosurtanal.go.id/?m=124&static=189 (Skala 1 : 10.000 / Padang dan sekitarnya)

Gempa Sangat Besar Mengancam Indonesia Beberapa Dekade ke Depan

Jakarta - Indonesia diprediksi akan kembali dilanda gempa yang lebih dahsyat dibanding gempa Sumbar 30 September. Hal ini dikarenakan dua lempeng tektonik yang berada di bawah Pulau Sumatera masih terus melakukan penyesuaian.

Hal itu disampaikan oleh para ahli gempa dari Earth Observatory of Singapore (EOS), seperti dilansir Los Angeles Times, Selasa (6/10/2009).

EOS yang merupakan lembaga yang dibiayai pemerintah Singapura khusus untuk meneliti tsunami, gunung berapi, gempa bumi, dan perubahan iklim, telah melakukan penelitian selama 3 hari pasca gempa Sumbar terhadap gejala seismik di beberapa lempeng di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan menggunakan peralatan Global Positioning System (GPS), catatan historis, dan pola pertumbuhan koral yang didasarkan pada kandungan uranium.

Dari penelitian tersebut, EOS menemukan gempa Sumbar hanya sedikit mengurangi ketegangan yang ada di area pertemuan dua lempeng tektonik. Menurutnya, gempa yang lebih buruk akan terjadi di wilayah Padang dan sekitarnya dalam beberapa dekade ke depan, namun prediksi waktu terjadinya tidak dapat dipastikan.

"Kita tidak berpikir ini yang paling besar. Bisa terjadi kapan saja, sekarang, 20 tahun lagi atau bahkan lebih," kata Direktur Teknik EOS Paramesh Banerjee.

Dikatakan dia, gempa Sumbar terjadi di area yang menjadi pertemuan dua lempeng, yaitu Lempeng Indo-Australia yang berada di bawah Lempeng Sunda. Area pertemuan dua lempeng tersebut tepat berada di bawah Padang dan Aceh, yang 2004 lalu telah lebih dulu diguncang gempa bumi beserta tsunami.

"Ketika satu lempeng berada di bawah lempeng lain, itu disebut 'subduksi'. Tapi itu tidak terjadi dengan tenang. Pertemuan dua lempeng menjadi stag dan kemudian terselip. Proses selip itu yang disebut gempa," tutur Banerjee.

Kedua lempeng ini melakukan terus penyesuaian beberapa inci setiap tahunnya, dan akan terus terjadi selama bertahun-tahun bahkan berabad-abad, sebelum akhirnya nanti akan terjadi penyesuaian yang paling dahsyat dan terjadilah gempa yang sangat besar. Besarnya gempa tergantung pada ukuran patahan dan seberapa besar penyesuaian patahan tersebut terjadi.

Pada kasus patahan Sunda, yang berhubungan dengan pantai barat Sumatera terjadi selip sedalam 30 meter tahun 2004 lalu dan memicu tsunami di Aceh. Kemudian tahun 2005 terjadi selip sedalam 12 meter yang memicu gempa bumi 8,7 SR yang melanda Nias dan Kepulauan Simeulue.

Menurut EOS, penyesuaian patahan selanjutnya masih akan terjadi tepat di wilayah pantai Padang, meskipun gempa telah mengguncang wilayah tersebut 30 September.

(nvc/nrl)

Sumber :
Detik.com
http://www.detiknews.com/read/2009/10/06/105545/1216097/10/gempa-sangat-besar-mengancam-indonesia-beberapa-dekade-ke-depan