08 October 2009

Bakosurtanal Mengirim Tim "Quick Mapping" Ke Sumbar

BOGOR, (PR).-
Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) mengirimkan tim khusus ke Sumatra Barat (Sumbar) untuk melakukan pemetaan cepat (quick mapping) kerusakan akibat gempa yang mengguncang pada 30 September lalu.

"Ini dalam rangka pembuatan kebijakan rekonstruksi pascagempa," kata Sekretaris Utama (Sestama) Bakosurtanal Sukendra Martha pada "Workshop Baca Peta bagi Wartawan" yang berlangsung di Cibinong Bogor, Rabu (7/10).

Sukendra mengatakan, tim khusus tersebut terdiri dari enam orang, antara lain pakar geologi dari Bakosurtanal Cecep Surbaya dan akan berada di Sumbar selama empat hari.

Dijelaskan dia, peta yang akan dibuat tim tersebut akan lebih detail yakni dengan skala 1:10.000 dari peta yang dibuat Bakosurtanal sebelumnya dengan skala 1:50.000, meliputi sepanjang kawasan pantai barat Sumbar.

"Dengan peta ini, detail dari kerusakan bangunan yang diakibatkan gempa bisa diketahui, seperti kerusakan berat dan ringan dari perumahan, kantor, hotel, jalan, hingga jembatan," katanya.

Sukendra mengungkapkan, tim akan menggunakan teknologi GPS (global positioning system) yang digabungkan dengan foto lokasi setelah gempa.

Informasi tersebut kemudian diintegrasikan dengan informasi dari tim lainnya yang juga datang ke Sumbar. GPS dilengkapi seperti format koordinat, deklinasi magnet, kompas, referensi utara, datum peta, peta elektronik, altimeter, dan lain-lain.

"Karena di sana sulit mencari penginapan, mereka harus siap untuk tidur di alam terbuka dan dilengkapi dengan perlengkapan lapangan seperti tenda dan sleeping bag," katanya.

Meski demikian, ia mengakui pembuatan peta membutuhkan biaya yang sangat besar, namun tim ini lebih didorong oleh semangat kebersamaan dan hanya melengkapi peta dasar yang sudah dibuat Bakosurtanal sebelumnya yang fokus pada satu kecamatan.

Ditanya soal survei dan pemetaan patahan yang disebabkan gempa Sumbar itu, Sukendra mengatakan, ada tim lain yang melakukan penelitian dengan lebih fokus kepada masalah geologi.


Sumber :

Pikiran Rakyat edisi cetak

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=102427

06 October 2009

Peta Padang dan sekitarnya

Mungkin ada di antara anda yang sedang atau akan bertugas menjadi relawan untuk membantu penanganan bencana pasca gempa 7,3 skala richter di Padang dan sekitarnya 30 September lalu. Berikut adalah link peta-peta dijital bagi yang membutuhkan informasi Padang dan sekitarnya, antara lain;

Lokasi posko-posko : http://opensource.telkomspeedy.com/map/

Peta RBI Bakosurtanal :
1. http://www.bakosurtanal.go.id/?m=124&static=188 (Skala 1 : 250.000)
2. http://www.bakosurtanal.go.id/?m=124&static=189 (Skala 1 : 10.000 / Padang dan sekitarnya)

Gempa Sangat Besar Mengancam Indonesia Beberapa Dekade ke Depan

Jakarta - Indonesia diprediksi akan kembali dilanda gempa yang lebih dahsyat dibanding gempa Sumbar 30 September. Hal ini dikarenakan dua lempeng tektonik yang berada di bawah Pulau Sumatera masih terus melakukan penyesuaian.

Hal itu disampaikan oleh para ahli gempa dari Earth Observatory of Singapore (EOS), seperti dilansir Los Angeles Times, Selasa (6/10/2009).

EOS yang merupakan lembaga yang dibiayai pemerintah Singapura khusus untuk meneliti tsunami, gunung berapi, gempa bumi, dan perubahan iklim, telah melakukan penelitian selama 3 hari pasca gempa Sumbar terhadap gejala seismik di beberapa lempeng di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan menggunakan peralatan Global Positioning System (GPS), catatan historis, dan pola pertumbuhan koral yang didasarkan pada kandungan uranium.

Dari penelitian tersebut, EOS menemukan gempa Sumbar hanya sedikit mengurangi ketegangan yang ada di area pertemuan dua lempeng tektonik. Menurutnya, gempa yang lebih buruk akan terjadi di wilayah Padang dan sekitarnya dalam beberapa dekade ke depan, namun prediksi waktu terjadinya tidak dapat dipastikan.

"Kita tidak berpikir ini yang paling besar. Bisa terjadi kapan saja, sekarang, 20 tahun lagi atau bahkan lebih," kata Direktur Teknik EOS Paramesh Banerjee.

Dikatakan dia, gempa Sumbar terjadi di area yang menjadi pertemuan dua lempeng, yaitu Lempeng Indo-Australia yang berada di bawah Lempeng Sunda. Area pertemuan dua lempeng tersebut tepat berada di bawah Padang dan Aceh, yang 2004 lalu telah lebih dulu diguncang gempa bumi beserta tsunami.

"Ketika satu lempeng berada di bawah lempeng lain, itu disebut 'subduksi'. Tapi itu tidak terjadi dengan tenang. Pertemuan dua lempeng menjadi stag dan kemudian terselip. Proses selip itu yang disebut gempa," tutur Banerjee.

Kedua lempeng ini melakukan terus penyesuaian beberapa inci setiap tahunnya, dan akan terus terjadi selama bertahun-tahun bahkan berabad-abad, sebelum akhirnya nanti akan terjadi penyesuaian yang paling dahsyat dan terjadilah gempa yang sangat besar. Besarnya gempa tergantung pada ukuran patahan dan seberapa besar penyesuaian patahan tersebut terjadi.

Pada kasus patahan Sunda, yang berhubungan dengan pantai barat Sumatera terjadi selip sedalam 30 meter tahun 2004 lalu dan memicu tsunami di Aceh. Kemudian tahun 2005 terjadi selip sedalam 12 meter yang memicu gempa bumi 8,7 SR yang melanda Nias dan Kepulauan Simeulue.

Menurut EOS, penyesuaian patahan selanjutnya masih akan terjadi tepat di wilayah pantai Padang, meskipun gempa telah mengguncang wilayah tersebut 30 September.

(nvc/nrl)

Sumber :
Detik.com
http://www.detiknews.com/read/2009/10/06/105545/1216097/10/gempa-sangat-besar-mengancam-indonesia-beberapa-dekade-ke-depan