Membuat layout peta merupakan satu proses penting dalam menghasilkan produk akhir sebuah proses pengolahan data spasial dalam Sistem Informasi Geografis. Layout peta bukan hanya sekedar membuat sebuah tampilan peta, namun lebih dari itu harus memenuhi syarat kartografis dan juga mengandung unsur-unsur komunikasi agar informasi peta bisa 'dinikmati dan difahami' oleh pembacanya.

Namun demikian tidak berarti jika kita melakukan atau membuat layout harus menjadi sesuai yang rumit, dan berikut ini adalah cuplikan dari proses pelatihan melayout sebuah peta secara sederhana yang disarikan dari pelatihan ArcGIS Dasar di LojiGIS minggu ke 2 Juli 2018 yang lalu. Video tersebut terdiri dari 3 bagian, mudah-mudahan tutorial ini bisa membantu anda yang sedang belajar SIG khususnya menggunakan ArcGIS.
 
Bagian 1:
 
Bagian 2:
 
Bagian 3:


Terra incognita atau terra ignota (Latin "tanah tak dikenal"; incognita ditekankan pada suku kata kedua dalam bahasa Latin, namun dengan variasi dalam pengucapan dalam bahasa Inggris) adalah istilah yang digunakan dalam kartografi untuk daerah yang belum dipetakan atau didokumentasikan. Istilah ini dipercayai dijumpai pertama kali dalam Geografi Ptolemaeus sekitar tahun 150. Istilah ini diperkenalkan kembali pada abad ke-15 dari penemuan kembali karya Ptolemaeus semasa Zaman Penjelajahan. Padanan kata pada peta Perancis adalah terres inconnues (bentuk jamak), dan beberapa peta Inggris mungkin menunjukkan Bagian Tak Diketahui. 

Demikian pula, laut yang belum dipetakan atau tidak diketahui akan dilabelkan mare incognitum, bahasa Latin untuk "laut yang tidak diketahui" (dari wikipedia)

Istilah ini juga digunakan oleh aplikasi gratis (open source) untuk mengunduh image (citra) dari google map, bing map, dan lain-lain yang juga bernama Terra Incognita versi 2.45 yang bisa diunduh di sini

Setelah sebelumnya Lintas Bumi memposting Tutorial Terra Incognita berupa tulisan, berikut adalah tutorial dalam format video untuk menggunakan aplikasi Terra Incognita tersebut.




Keamanan adalah faktor penting atau bahkan mungkin sebuah kebutuhan dasar bagi manusia di manapun untuk tetap bisa beraktifitas secara bebas tanpa rasa takut dalam menjalani kehidupannya. Namun demikian karena berbagai faktor selalu saja ada berbagai tindak kejahatan atau kriminal di suatu wilayah, banyak atau tidaknya tindak kejahatan di suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu terkadang menjadi patokan apakah suatu wilayah aman atau tidak. Berikut ini Lintas Bumi sajikan beberapa data statistik dari buku Statistik Kriminal 2017 yang secara resmi dipublish oleh BPS dalam bentuk peta WebGIS.
Kejadian Kriminal
Pada tahun 2016 Kepolisian RI mencatat terjadi 357.197 kejadian kriminal yang dilaporkan di seluruh Indonesia, di mana DKI Jakarta (Polda Metro Jaya) tercatat merupakan yang tertinggi kejadiannya dengan 43.842 kejadian, sedangkan yang terkecil adalah di Maluku Utara dengan 1.096 kejadian.
Peta Statistik Kejadian Kriminal 2016


Grafik kejadian kriminal yang dilaporkan tahun 2016
Keterangan :
Sulawesi Barat dan Kalimantan Utara belum tercatat, masih tergabung dengan Polda Sulawesi Selatan dan Kalimantan Timur pada tahun 2016.

Crime Rate 2016
Namun demikian jumlah kejadian kriminal yang dilaporkan ternyata tidak berbanding lurus dengan angka resiko terkena kejahatan atau lebih dikenal dengan Crime Rate yang dihitung dari kejadian kriminal per 100.000 penduduk. Crime rate memang dipengaruhi oleh jumlah penduduk, karena walaupun kejadian kriminalnya banyak namun karena penduduknya juga banyak maka rate atau rasionya bisa saja jadi kecil.

Crime rate tertinggi di Indonesia tahun 2016 ternyata berada di Wilayah Provinsi (Polda) Papua Barat dengan 396, sementara DKI Jakarta (Polda Metrojaya) justru berada di urutan 15. Sedangkan Crime Rate terkecil dipunyai oleh Jawa Tengah dengan 39.
Peta Crime Rate 2016


Grafik crime rate 2016

Keterangan :
Sulawesi Barat dan Kalimantan Utara belum tercatat, masih tergabung dengan Polda Sulawesi Selatan dan Kalimantan Timur pada tahun 2016.


Sumber data:
Statistik Kriminal Indonesia 2017, Badan Pusat Statistik / POLRI


Konsep  sistem  lahan  (land  system)  diperkenalkan oleh Christian dan  Stewart  (1968)  didasarkan  pada prinsip ekologi dengan menganggap ada hubungan  yang  erat  antara  tipe  batuan, hidroklimat, landform, tanah, dan organis-me. Sistem lahan yang sama akan mempunyai  kombinasi  faktor-faktor  ekologi atau lingkungan yang sama. 

Oleh karena itu, sistem lahan bukan merupakan sesuatu yang unik untuk satu tempat saja (spesifik lokasi), tetapi dapat dijumpai di mana pun dengan  karakteristik  lingkungan  yang sama.  Lebih  lanjut  dikemukakan  bahwa satu  sistem  lahan  terdiri  atas  satu  kombinasi batuan induk, tanah, dan topografi, dan  hal  ini  mencerminkan  kesamaan potensi dan faktor-faktor pembatasnya (Suharta, 2007).

Bisa dikatakan land system adalah  suatu  informasi  spasial dari  suatu  sistem  lahan  yang  dibangun  atau  disusun berdasarkan  faktor/kelompok  geologi   dan  proses pembentukannya  beserta  pengaruh  iklim  yang  ada diatasnya,  sehingga  menghasilkan  suatu  unit  lahan dimana  mempunyai  parameter iklim,  geologi,  tanah, topografi  yang  dianggap  sama/  homogen,  sehingga dengan demikian keseluruhan  faktor  yang  menyusun unit tersebut memberi pengarah yang  sama terhadap pertumbuhan  organisme  yang  ada  di  atasnya (Achmad, 2002).

Di Indonesia sendiri land system banyak dikenal melalui peta RePPProT (Regional Physical Planning Program for Transmigration, yaitu suatu kegiatan yang dilaksanakan antara tahun 1984 – 1990 serta pada tahun 1980-an, dalam rangka menunjang pengembangan transmigrasi. Kegiatan itu dikerjasamakan antara Direktorat Bina Program, Dirjen Penyiapan Pemukiman Departemen Transmigrasi, dengan Land Resources Departement ODNRI-ODA. Sejak itu dimulailah kegiatan pemetaan sumberdaya lahan untuk seluruh Indonesia pada skala l : 250.000. Kegiatan pemetaan yang kemudian dikenal sebagai proyek RePPProT (Regional Physical Planning Programme for Transmigration) ini, menerapkan konsep Sistem Lahan yang bersumber pada konsep Sistim Lahan CSIRO (Christian dan Stewart, 1968). 

Bagi yang sedang membutuhkan peta sistem lahan atau land system Indonesia dalam format shp skala 1 : 250.000 silahkan anda bisa unduh melalui peta di bawah ini, kami membaginya per provinsi, tidak per indeks seperti aslinya. Walaupun sifatnya atau skalanya masih global namun dikarenakan belum tersedianya peta sistem lahan dalam format yang lebih detail versi terbaru yang dikeluarkan oleh pemerintah, data tersebut masih bisa digunakan. Silahkan klik warna merah pada provinsi yang dimaksud dan klik unduh. Belum semua provinsi ada peta sistem lahannya, saat ini baru ada untuk Sumatera, sebagian Jawa dan sebagian Kalimantan.

Peta akan muncul antara 5 - 10 detik !

Legenda


Pastikan laptop atau komputer anda mumpuni untuk bisa menjalankan ArcGIS, dikarenakan software ini membutuhkan speks yang lumayan.
Paling tidak RAM >= 2 GB (disarankan lebih), Hardisk >= 500 mb

Langkap pertama tentu unduh atau download installer + cracknya
Selanjutnya jalankan atau instal terlebih dulu ArcGIS sampai selesai.
Lalu instal lisensi manager nya
Teruskan dengan menjalankan cracknya
Barulah ditest apakah sukses atau tidak instalannya.

Berikut ini video lengkapnya