Suatu Saat Antara Ternate - Sanana


Injakan Pertama di Ternate

Pesawat berlogo kepala singa akhirnya mendaratkan saya dan kawan dengan selamat di Bandara Sultan Baabulah Ternate. Ini pertama kalinya saya menginjak tanah Maluku Utara, dan hawa panas segera menjemput saya begitu keluar dari bandara. Namun beruntung saya segera dijemput oleh Pak Haji (maaf saya lupa namanya), dengan mobilnya yang ber AC alias Angin Cendela sehingga sedikit menghilangkan panas yang terasa terus menggelayut. 

Siang itu kami langsung diantar Pak Haji ke hotel (lagi-lagi saya lupa namanya), karena malam itu saya dan kawan harus menginap dulu satu malam di Ternate. Kami berencana ke Sanana ibukota Kabupaten Kepulauan Sula, dan pesawat ke sana baru ada besok harinya. 

Besoknya pagi-pagi sekali jam 4 pagi kami sudah harus checkout dari hotel karena pesawat ke Sanana terbang jam 7 pagi, dan kami harus checkin paling telat satu jam sebelum keberangkatan. Kami kembali dijemput oleh mobil Pak Haji tapi kali ini hanya sopirnya saja yang mengantar kami ke bandara.

Sepanjang perjalan hotel - bandara kami merasakan suasana jalanan Ternate yang sepi, penduduknya masih terlelap tidur, saya pun sebetulnya masih terkantuk-kantuk karena tidur belum 'sempurna'. Gemerlap lampu-lampu toko dan rumah sepanjang jalan serta PJU memperjelas suasana pagi Ternate yang kami lihat. Kami masih bertemu dengan satu atau dua kendaraan, beberapa orang sudah mulai menggeliat memulai kehidupan seperti di pasar pinggir jalan. Sayup-sayup juga terdengar suara pengajian menjelang subuh di mesjid yang kami lewati. 

Smpailah kami di bandara, singkat cerita kami check in untuk pesawat ke Sanana dan setelah sekitar satu jam setengah menunggu di terminal keberangkatan akhirnya kami terbang juga dengan pesawat W**** **r. Keindahan Gunung Kimatabu (Pulau Tidore) yang kami lihat dari pesawat seolah melambaikan tanda selamat jalan menuju Sanana. 

Sepanjang terbang saya mencoba membayangkan seperti apa kota Sanana itu. Saya fikit koq namanya mirip tokoh Timor Leste ya. Perjalanan kali ini semuanya serba pertama bagi saya, pertama ke Maluku Utara, Ternate, dan tentu saja Kepulauan Sula. Tujuan perjalan kami sebenarnya yaitu ke satu wilayah yang kata teman saya orang Sanana masih jauh lagi dari Sanana, yaitu Pulau Mangoli (kadang disebut Mangole). Sanana saja terasa jauh, bagaimana Pulau Mangoli pikir saya. Alhamdulillah setelah sekitar 50 menit saya sampai di Bandara Emalamo kota Sanana.

Rute pesawat dan kapal penyeberangan ke Dofa
Rute pesawat dan kapal penyeberangan ke P Mangoli (Dofa)

Sanana

Bandara Emalamo adalah sebuah bandara kecil, yang melayani perjalanan Sanana - Ambon atau Sanana Ternate setiap harinya. Di area apron bandara saya lihat banyak sapi-sapi sedang makan rumput, penjagaan di bandara ini tidaklah terlalu ketat. Para penumpang yang sedang menunggu keberangkatan pun tidaklah lah terlalu ramah, entah kalau momen-momen tertentu. Setelah mengambil barang di bagasi, kami sudah ditunggu oleh penjemput dari Pemda Kepulauan Sula.

Sepanjang perjalan dari Bandara Emalamo menuju hotel hanya satu kesan pertama mengenai Sanana, sepi... kendaraan paling banyak ditemui adalah motor, mobil ada tapi tidak terlalu banyak, dan wilayahnya belum begitu berkembang (ya iya lah bandingannya Bogor 😊), seperti umumnya tipologi ibu kota kabupaten di luar jawa yang pernah saya kunjungi. Melihat Sanana saya jadi teringat kampung halaman sendiri di tahun 80 an.

Namun tunggu dulu, ini sudah abad 21, walaupun tidak ramai tapi kalau soal komunikasi tidak kalah dengan Bogor.  Di hotel yang kami inapi sudah ada Wi Fi gratis melalui konteksi In*****e dan lumayan cepat, artinya nggak ketinggalan informasi dong penduduk Sanana, walaupun jaraknya ribuan kilometer terpisah lautan dari Istana Negara.

Kota Sanana terletak di pantai timur Pulau Sulabesi (untuk lebih jelas silahkan ubek-ubek Google Map), so udaranya secara umum panas, tak heran di hotel AC nyala terus siang dan malam. Pagi hari setelah subuh, sengaja saya jalan-jalan dengan harapan memperoleh udara segar Sanana dan tentunya cari spot foto. Hawa pantai sudah terasa dan saya baru sadar kalau hotel tempat menginap ternyata hanya berjarak seratus meter dari pantai dan seberangan dengan Dermaga penyeberangan Sanana. Jeng jeng saya berkesempatan melihat sunrise di Demaga Sanana walaupun kurang maksimal.

Dermaga Sanana (1)

Dermaga Sanana (2)
 
Yang menarik Sanana mempunyai satu bangunan yang mirip istana, yang disebut yang terkenal dengan nama Istana Daerah Dad Hia Ted Sua dan Fort De Verwachting, sering disebut Isda. Ternyata itu di samping kamar hotel saya! Sayang foto-fotonya ada di hardisk saya yang rusak jadi tidak terposting. Katanya sih Istana Daerah Dad Hia Ted Sua ini adalah rumah dinas bupati tapi tidak ditempati, dan dijadikan tempat menginap tamu-tamu pemerintah. Sedangkan Fort De Verwachting kelihatannya semacam bekas benteng pertahanan zaman kolonial tapi terlihat tidak terurus.

Jalan..... jalanan Sanana memang sepi, tidak begitu banyak mobil di sini, bahkan kambing pun bebas berkeliaran di jalanan Sanana. Mobil yang lewat di pagi itu kebanyakan adalah angkot yang sedang 'merayu' anak sekolah untuk naik, dengan setelan musik yang rata-rata keras, kalau tidak keras tidak ada yang mau naik (barangkali..). Sedikit ke sebelah selatan dermaga, ada sebuah jembatan dengan warna ngejreng kuning... Di belakang istana terdapat sekolah dasar, pagi itu jalanan di depannya sedikit macet karena lalu lalang penyeberang dan angkot-angkot yang berhenti menurunkan anak sekolah, serta para orang tua yang mengantarkan anaknya ke sekolah dengan motor juga mulai berdatangan.

Jembatan Kuning di Sanana

Sayangnya saya tidak lama di kota ini, hanya satu malam karena jam 10 pagi nya harus segera naik kapal penyeberangan ke Pulau Mangole, jadi tidak bisa banyak mengeksplor spot-spot lainnya. Ketika pulang kembali ke Jakarta pun hanya transit semalam di Sanana dan paginya langsung terbang lagi ke Ternate. 

Kabupaten Kepulauan Sula ini secara umum sebetulnya mempunyai spot-spot pantai yang indah dan layak untuk dijadikan spot wisata yang bagus, hanya saja transportasi dan ongkosnya yang mahal masih jadi kendala bagi orang luar untuk bisa ke sana.

Perkampungan pinggir pantai dilihat dari Dermaga Sanana (1)

Perkampungan pinggir pantai dilihat dari Dermaga Sanana (2)

Saya selalu suka dengan keindahan alam dan keragaman penduduk Indonesia di manapun dan bersyukur pada Tuhan diberi kesempatan untuk merasakannya. Mudah-mudahan ada kesempatan lagi ke sana. Inilah jalur saya jalan-jalan di Sanana walaupun cuma sebentar.

Jalur saya jalan pagi di Sanana

Comments