26 March 2018

Sertifikasi Tenaga Ahli SIG : Sebuah Pengalaman

Kamis sore itu tiba-tiba dering HP berbunyi dengan keras, begitu saya angkat di ujung sana pimpinan proyek memberitahukan bahwa ada kegiatan baru yang mengharuskan saya untuk melakukan pemotretan tutupan lahan di sekitar Kutai Barat dengan Drone. Alamak “matek” aku! begitu gumam saya dalam hati sambil jawab "baik, siap boss" 😊. Dengar “ngedrone” dan segala tektek bengeknya tentu sudah tidak asing di telinga saya, tapi kalau untuk melakukannya sendiri harus diakui saya nol besar! Melihat benda yang disebut pesawat UAV secara langsung saja belum pernah, megang pun tentu tidak pernah, apalagi sampai mengendalikannya (mempiloti) untuk sebuah pemotretan udara. Langsung setelah selesai pimpro telepon, tidak menunggu lama saya pun langsung telepon rekan saya sesama “penggemar dunia data spasial”, dengan tujuan mencari informasi di mana saya bisa menyewa drone beserta pilotnya, itulah pemecahan yang saya putuskan. 

Dari sinilah cerita ini berawal, kawan saya memberi info ke mana dan siapa yang kira-kira bisa membantu kebutuhan saya ngedrone, namun pada saat yang sama sebagai imbal jasanya 😊 saya diminta kesediaan atau tepatnya membantunya untuk menjadi salah satu tenaga ahli SIG pada sebuah tender proyek analisis spasial yang akan di selenggarakan oleh satu badan pemerintah yang cukup dikenal dalam dunia data spasial Indonesia. Salah satu syaratnya tenaga ahli SIG yang diminta harus sudah bersertifikat ahli SIG pada tingkatan atau level yang tidak main-main yaitu level supervisor alias pimpinan proyek. Kawan saya di ujung telepon sana meyakinkan bahwa saya sudah pantas untuk berada pada posisi level itu, mengingat dia tahu sudah berapa lama saya berkecimpung dalam dunia per SIG an, dan masih jarang tenaga SIG yang memiliki sertifikasi pada level itu. “Pokoknya mas tinggal jawab siap untuk ikut proses sertifkasinya yang kemungkinan akan dilaksanakan di akhir pekan (saat telepon-teleponan ini di tengah-tengah minggu), tinggal datang saja dan siapkan syarat-syaratnya, biaya biar kami yang tanggung” begitu kurang lebih usaha rekan untuk lebih meyakinkan saya. Akhirnya saya jawab “Ok, kalau begitu Insya Allah saya siap untuk mengikuti sertifikasinya”. Kapan lagi ada kesempatan seperti ini gumam saya dalam hati. Akhirnya saya disuruh menunggu info selanjutnya karena direncanakan sertifikasinya akan dilakukan akhir minggu.

Sampai weekend saya tunggu ternyata belum ada kepastian kapan uji kompetensi akan dilakukan, akhirnya saya menganggap mungkin tidak jadi. Tiba-tiba hari minggu malam kawan saya lewat WA memberitahukan bahwa uji kompetensi jadi dilaksanakan haru rabu depan, berarti hanya 3 hari lagi, waktunya mepet, namun harus siap. Untungnya semua dokumen yang dipersyaratkan ada semua, namun tidak dengan persiapan skill. Seperti juga pengetahuan saya terkait Drone, informasi yang saya ketahui tentang sertifikasi tenaga ahli SIG ini pun masih sangat sedikit. Saya hanya baca-baca sekilas lalu itu pun tanpa sengaja lewat postingan di medsos, tidak pernah secara sengaja saya mencari informasi apa dan bagaimana yang disebut sertifikasi tenaga ahli SIG. Padahal teman-teman kuliah di pasca pun sudah ada yang ikut dan mendorong saya untuk ikut pula. Terus terang salah satu alasan kenapa saya belum tertarik untuk ikut sertifikasi tenaga ahli SIG ini karena pertimbangan biayanya yang menurut saya masih tinggi.

Mau tidak mau akhirnya saya pun googling ke sana kemari mencari apa, bagaimana dan di mana saja ada sertifikasi tenaga ahli SIG di Indonesia. Dari situ saya akhirnya tahu ternyata banyak sekali pihak yang menyelenggarakan sertifikasi tenaga ahli SIG di Indonesia, pilihannya banyak, begitupun harga dan tingkatannya pun berbeda-beda. Materi yang diujikan pun berbeda-beda. Khusus kasus saya, sertifikasi diperlukan untuk keperluan tender di badan pemerintah yang hanya mengakui sertifikasi tenaga ahli SIG yang diselenggarakan oleh LSTP MAPIN dan ISI (Ikatan Surveyor Indonesia). Akhirnya saya dan rekan sepakat memilih untuk mengikuti sertifikasi yang diselenggarakan oleh LSTP MAPIN. 

Uji sertifikasi tenaga ahli SIG yang diselenggarakan oleh LSTP MAPIN (Lembaga Sertifikasi Tenaga Profesional - Masyarakat Penginderaan Jauh) berlangsung di Bogor. Secara umum sertifikasi ini terbagi 2 tipe yaitu untuk tenaga ahli SIG dan Penginderaan Jauh (Inderaja). Level yang diujikan atau yang bisa dipilih yaitu level 4 sampai 8 (tingkat operator sampai ahli utama). Bagi anda yang ingin mengetahui informasinya lebih lanjut silahkan kunjungi situs MAPIN atau ISI atau googling saja. Biaya setiap level tentu saja berbeda-beda, makin tinggi makin mahal, misal untuk level 7 SIG di LTP MAPIN yang saya ambil yaitu 3 juta ditambah biaya pendaftaran 200 ribu rupiah. Masa berlaku sertifikatnya adalah selama 3 tahun.

Saya berkesimpulan dan menyarankan jika anda bermaksud untuk mengikuti sertifikasi tenaga ahli SIG atau Inderaja, cari info yang detail dan pilihlah yang sudah sesuai dengan SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) khususnya untuk bidang Informasi Geospasial (SKKNI No. 95 tahun 2017). Selain itu pastikan secara lembaga penyelenggaranya sudah diakui oleh BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) dan KAN (Komite Akreditasi Nasional).

Setelah ada kepastian waktu uji kompetensi, dengan sedikit "ngebut" akhirnya dipersiapkanlah syarat-syaratnya (dokumen persyaratan). Untuk di LSTP MAPIN yang dokumen harus disiapkan antara lain adalah copy ijazah terakhir yang telah dilegalisir, copy sertifikat pelatihan terkait SIG atau Inderaja yang pernah diikuti, copy ktp, pas foto 4x6 berwarna 2 buah, copy surat referensi dari atasan atau lembaga tempat bekerja/proyek, surat keterangan sehat dan tidak buta warna (khusus inderaja) dari dokter, dan tentu saja CV atau Curiculum Vitae. Pada hari H dokumen asli dari kesemuanya di bawa untuk verifikasi. 

Adapun untuk materi yang akan diujikan semua diberitahukan secara terbuka oleh panitia penguji, semacam kisi-kisi yaitu berupa asesmen mandiri sesuai SKKNI dan level yang diikuti, di dalamnya ada beberapa tipe pertanyaan. Untuk level 7 yang saya ikuti kalau tidak salah ada 12 tipe uji keahlian sesuai SKKNI. Beberapa hari sebelum hari H form atau kisi-kisi tersebut dikirimkan oleh panitia lewat email ke setiap peserta uji kompetensi untuk diisi dan dicetak serta di bawa pada saat hari H uji sertifikasi. 

Nah waktu beberapa hari sebelum hari H ini sebetulnya adalah waktu bagi masing-masing peserta untuk memahami isi SKKNI dan mempersiapkan pengetahuan, wawasan, dan kemampuan yang akan disiapkan pada hari H. Namun hal itu tidak terjadi pada saya, karena justru pada saat saya diberitahu untuk uji sertifikasi (3 hari sebelum hari H) dan beberapa hari sebelum hari H, saya sendiri sedang punya kesibukan lain yang menyita waktu yaitu memberikan pelatihan SIG dari pagi sampai sore selama seminggu. Jadi praktis yang saya lakukan hanya membaca sekilas, jawab ya (ceklis) semua pertanyaan, kirim balik ke panitia dan dicetak. Tanpa persiapan sama sekali!

Tibalah hari H yaitu hari rabu, TUK atau tempat uji kompetensi di Lab. Kom (Geodesi) Fak. Teknik Universitas Pakuan Bogor di belakang kampus IPB Barangsiang (sekitar daerah Ciheuleut) Kota Bogor. Sesuai jadwal uji kompetensi akan berlangsung dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore. Saya datang sekitar jam 08.30 setelah nyasar terlebih dulu 😊. Saat itu sudah ada 4 peserta lain yang terlebih dulu datang dari total 8 peserta yang akan mengikuti uji kompetensi, saya berkenalan dan ngobrol-ngobrol dengan mereka sampai akhirnya semua datang. 

Level yang akan mereka ikuti pun beragam baik SIG maupun Inderaja dan saya adalah satu-satunya yang mengikuti level 7. Tadinya ada satu peserta yang direncanakan untuk level 7 Inderaja, namun setelah divalidasi pengalaman kerja dan lama lulus s2 nya ternyata tidak mencukupi, sehingga hanya bisa di level 6. Oh ya sebagai info untuk level uji kompetensi sangat ditentukan oleh lama pengalaman kerja bidang SIG atau Inderaja, untuk level 7 seperti saya misalnya, syaratnya antara lain 1) telah memegang sertifikat level 6 atau telah mengikuti pelatihan SIG kualifikasi level 7, atau 2) lulus s2 dengan pengalaman kerja minimal 2 tahun, atau 3) pengalaman kerja bidang SIG minimal 5 tahun. Modal saya adalah syarat yang terakhir. 

Ujian sendiri dimulai tepat jam 9 pagi, semua peserta diabsen terlebih dulu oleh panitia. Di awal ujian semua peserta dipanggil, tempat duduk sudah ditentukan dan masing-masing ada komputer yang telah diisi bahan ujian sesuai level. Panitia atau tepatnya assesor (penguji) memperkenalkan diri dan menginformasikan aturan main uji kompetensi, seperti aturan makan snack, ishoma, dll. Setelah itu foto Bersama terlebih dulu. Ruangan cukup nyaman ber AC sehingga pada saat uji kompetensi pun kita bisa rileks, bisa sambil makan snack dan minum, suasana uji kompetensi sangat santai. Jika ada hal yang ingin ditanyakan tinggal panggil assesor. Waktu ishoma pun santai, bahkan saya hanya jeda sekitar jam 1.00 – 1.30 siang untuk ke toilet, sholat dzuhur, dan makan siang.

kredit foto: LSTP MAPIN
Secara umum ada 2 tipe ujian yaitu wawancara (lisan) dan praktek. Pada tahap pertama assesor yang telah ditentukan akan mewawancarai masing-masing peserta untuk validasi dokumen yang telah dikirim. Setelah itu kemudian sesi wawancara yaitu menanyakan kesiapan dan pemahaman akan apa yang akan diujikan. Terselip pertanyaan-pertanyaan untuk menguji dan membuktikan apa yang telah dijawab ya pada form assesmen mandiri (SKKNI) apakah betul atau tidak. Itu semua harus dibuktikan saat itu. Kalau ada bukti atau karya yang pernah anda buat baik di laptop atau online yang sesuai pertanyaan langsung tunjukan saja. Pada level 7 yang saya ikuti, ada satu item yang menurut assesor kurang meyakinkan dari saya yaitu mengenai pembuatan Geoportal, saya hanya tahu secara konsep tapi secara teknis belum bisa menjelaskan. Selebihnya bisa saya jawab dengan modal pengalaman dan pengetahuan yang saya miliki.

Setelah tahap wawancara ada ujian yang sifatnya teori (semacam essai) dan juga praktik. Pada level 7 kalau tidak salah ada 7 pertanyaan dengan masing-masing nomor mempunyai sub pertanyaan lagi. Pertanyaan dan jawabannya lebih banyak pada bagaimana pemahaman dan pengalaman kita tentang keproyekan SIG sampai ke hal administrasi seperti personil, keuangan, dll. Untuk praktik SIG bisa menggunakan ArcGIS atau QGIS, pertanyaan praktik yang diberikan pada level 7 lebih bersifat analisis yang harus dilakukan pada software SIG. Pada level 7 ini anda juga harus faham betul bagaimana membuat, mengelola (termasuk mengamankan) web, webgis, dan geoportal. Jika pengetahuan dan pemahaman itu sudah ditangan maka pertanyaan terkait itu akan dilahap dengan begitu mudah. 

Sekedar berbagi pengalaman dan trik dari saya, utamakan menjawab pertanyaan yang bisa anda  faham/punya pengalaman. Walaupun diberi waktu yang longgar (jam 10 pagi – jam 4 sore) jika banyak dihabiskan di satu pertanyaan (terlalu lama lebih dari 1 jam per nomor) maka kemungkinan nomor lain tidak keburu terjawab dengan baik (waktu habis), dan itu terjadi pada beberapa teman peserta lain (hasil ngobrol setelah ujian selesai). Saya sendiri mengutamakan praktek ArcGIS dulu. Komputer pun sudah dibekali dengan koneksi internet sehingga anda bisa mengeksplorasi jawaban lewat bantuan dunia maya seperti google. Sayangnya di sore hari koneksi internet di sana macet, sehingga menyulitkan untuk mengoptimalkan dunia maya. Mudah-mudahan ke depan tidak seperti itu lagi.

Sesuai aturan yang saya baca di situs MAPIN, minimal 70% anda bisa menjawab di setiap item dan betul (meyakinkan) anda akan dinyatakan lulus. Itu pula sepertinya yang terjadi dengan saya, karena tidak setiap sub nomor saya jawab (ada yang saya lewat). Jangan lupa memberitahukan kepada assesor di mana setiap jawaban (bisa berupa file word ataau excel) di simpan (pada komputer/buat folder sendiri), termasuk project webgis, arcgis ataupun qgis yang anda buat. Beri kode sesuai nomor pertanyaan, kerjakan secara rapih (runut) walaupun tidak anda jawab semua.

Akhirnya waktu uji sertifikasi pun habis (jam 4 sore), kita akan  disuruh menunggu di luar ruangan, manfaatkan untuk sholat ashar dan rileks. Assesor pada saat itu sedang memvalidasi jawaban-jawaban anda dan melihat bukti-bukti pada komputer tentang apa jawaban yang diberikan, apakah sudah sesuai standar yang dipersyaratkan atau tidak. 

Setengah jam kemudian kita akan dipanggil kembali, wawancara kedua dimulai yaitu memberitahukan dan memvalidasi ke peserta hasil penilaian assesor atas jawaban-jawaban kita. Kepada anda akan ditunjukan sebuah form penilaian apakah pada setiap item anda dinyatakan Kompeten (K) atau Belum Kompeten (BK). Jika soal anda jawab semua (100%) dan nilai K mencapai di atas 70% bisa dipastikan anda lolos. Kalaupun tidak, misal anda hanya menjawab minimal 70% dari semua pertanyaan yang ada namun bernilai K semua, maka juga dipastikan anda lolos. Pada kasus saya, saya hanya mengisi sekitar 70% - 80% dari semua pertanyaan, namun demikian Alhamdulillah jawaban saya diangap kompeten semua, kecuali pada sub item struktur Geoportal yang belum dipastikan oleh asseor. Di situlah saya dituntut kemampuan bernegosiasi dengan assesor, bagaimana meyakinkan bahwa saya memang kompeten pada item itu dan kompeten pada level 7 secara keseluruhan. Setelah obrolan berputar-putar kesana kemari, Alhamdulillah akhirnya saya dinyatakan lolos dan layak menyandang tenaga ahli SIG level 7 atau Ahli Muda SIG. Jam 5 sore saya sudah bisa pulang.

Berdasarkan info, sertifikat resmi akan diberikan setelah 1 bulan dari tanggal uji kompetensi, selama menunggu kita diberi surat keterangan sementara (lewat email) dari LSTP MAPIN yang menyatakan bahwa kita telah mengikuti uji kompetensi dan layak pada level yang sesuai. Terima kasih LSTP MAPIN.

Anyway jika anda juga punya pengalaman sertifikasi keahlian khususnya SIG dan Inderaja silahkan berbagi cerita di kolom komentar, siapa tahu bisa membantu teman-teman lain yang akan melakukan sertifikasi.

Bubulak bada magrib 26 Maret.

0 comments:

Post a Comment